Eileen Rachman & Sylvina Savitri
EXPERD
SERVICE WITH EQ

Dimuat di Kompas, 14 Juli 2013

Belakangan ini keluhan mengenai kesulitan komunikasi antar generasi, antar
bagian, alias gejala ‘silo’ semakin kencang. Padahal media komunikasi kian
hari kian canggih. Sudah ada video conference yang bisa dilakukan secara
global, realtime, gratis pula. Namun, tetap saja keluhan mengenai sulitnya
mendapatkan ‘kata sepakat’ atau sulitnya menjalankan suatu komitmen terus
kita dengar. Kita bukannya tidak berkomunikasi, karena jelas kita bicara
sepanjang waktu, juga melakukan rapat dan meeting internal secara berkala.
Kita bisa saksikan juga media televisi dipenuhi talkshow, debat, diskusi,
begitu pula ulasan mengenai rapat parlemen yang berjalan dari waktu ke
waktu. Pertanyaannya, apakah kita mengevaluasi sejauh mana komunikasi yang
berlangsung sehari-hari ini, baik atasan–bawahan, antar unit kerja,
membuahkan hasil? Sering kita saksikan bahwa komunikasi, meeting dan
diskusi, ternyata tidak menjadikan kita tambah pandai, tambah tahu atau
tambah mengerti, apalagi jadi tambah gesit dan produktif. Alangkah borosnya
waktu dan biaya yang dikeluarkan.

Dari media masa pula semakin sering kita menyaksikan benturan nilai maupun
benturan pendapat yang bukan saja tidak bisa diselesaikan, namun kadang
diakhiri dengan agresi. Padahal, di era AFTA 2014, di mana nantinya
batas-batas baik bisnis, komunikasi, hubungan diplomasi semakin berbaur,
tentu akan ada semakin banyak perbedaan, baik dari bidangnya,  ilmu, kultur
maupun tingkatannya. Sebetulnya, bila kenyataan ini dimanfaatkan,
kepentingan bersama bisa kita dapatkan dari kelebihan masing-masing pihak.
Hal ini yang tentu perlu menjadi concern kita bersama. Kita perlu sadari
betapa kita perlu belajar banyak, menyerap perbedaan, mengelola
keberagaman. Di organisasi, banyak pemimpin yang menginginkan agar seluruh
jajaran organisasi mau mengungkapkan pendapat dan masukan mereka, tetapi
banyak yang tidak bisa mencapai sasaran tersebut. Komunikasi terasa satu
arah, dan ‘top down’. Alangkah sia-sianya kepintaran dan keahlian jajaran
di bawah, yang biasanya punya pengetahuan baru dan berbeda. Ini hanya
karena mutu konversasi yang beredar di organisasi tersebut. Sebaliknya, CEO
Apple, Tim Cook, menekankan untuk merekrut karyawan yang berbeda dan berani
mengemukakan pendapat : “If you don’t feel comfortable disagreeing, you’ll
never make it at Apple.”.

Dalam setiap dialog, apakah itu dalam rapat internal, debat berdua maupun
dalam kelompok, setiap partisipan peru memperhatikan kesuksesan dari
komunikasinya. Apakah komunikasinya mempunyai sasaran yang jelas, tidak
hanya asal bunyi atau asal bicara saja? Apakah pesan yang ingin ia
sampaikan bisa ditangkap dengan baik oleh lawan bicara? Apakah pesan yang
disampaikan oleh lawan bicara benar-benar bisa dipahami seluruhnya? Bila
tidak sukses, bagaimana memperbaikinya? Keluhan mengenai kesenjangan
pengetahuan para freshgraduate dengan para senior berpengalaman jelas tidak
bisa selesai dengan keluhan tentang ber-‘beda’nya para gen Y. Kita perlu
menyadari bahwa tacid knowledge  dikembangkan dari pembicaraan tentang
praktek. Bila di lapangan tidak ada tanya jawab yang berbobot, individu
tidak bisa mempelajari suatu pengalaman secara mendalam. Perlu ada proses
perpindahan konsep dan logika lapangan itu ke individu. Dan ini hanya bisa
terjadi dengan tanya jawab yang panjang dan mendalam.

Hapus budaya bicara :” hit & run”
Pernahkah kita memperhatikan cara-cara kita berkomunikasi? Apakah kita
membuat waktu cukup untuk mendengarkan lawan bicara kita menuntaskan
bicaranya? Tuntaskah tanya-jawab kita? Bayangkan seorang atasan yang kesal
karena anak buahnya sering terlambat. Ketika berpapasan di lift, ia
menyatakan, ”Kamu terlambat lagi...”, dengan muka asam. Baru saja sang anak
buah ingin memberi keterangan tentang kesulitannya, atasan tersebut sudah
berlalu. Apa yang didapat dari  konversasi  singkat ini? Sekedar
pelampiasan kemarahan yang menimbulkan rasa bersalah besar pada diri anak
buah itu. Apakah dialog ini membuahkan perbaikan perilaku? Sama sekali
tidak. Celakanya, orang lain yang menyaksikan jadi ragu untuk berdialog
dengan atasan tersebut. Bukankah situasi begini sangat merugikan bagi semua
pihak?

Kita jelas bisa banyak belajar dari proses tanya jawab. Bukankah
pengembangan dan penguatan nilai-nilai hanya bisa di lakukan melalui tanya
jawab yang panjang?  Bukankah  pendalaman pengetahuan dan ketrampilan juga
hanya bisa dilakukan melalui percakapan yang bermutu?  Bukankah kita
mendengar tentang bolak-balik komunikasi Jokowi dengan pedagang kaki lima
di Solo dan Organda DKI diwarnai dengan tanya-jawab intensif? Perbedaan
kepentingan memang harus melalui proses panjang agar masing-masing pihak
menyetujui agenda dan sasaran pihak lain. Percakapan adalah proses
pertukaran yang sangat penting. Pertukaran pengetahuan, pendapat, sasaran,
pemahaman, hanya bisa kita lakukan melalui percakapan yang diwarnai tanya
jawab bermutu. Pertanyaan-pertanyaan bersayap, menyindir atau juga retorika
yang tidak mengundang tanya jawab yang sehat-lah yang perlu kita hindari.

Komunikasi 50-50
Kita sering menghadapi situasi di mana pertanyaan yang diajukan seseorang
menyudutkan, atau membuat kita merasa bersalah, sehingga kita merasa tidak
nyaman. Ini adalah bentuk tanya jawab yang tidak produktif, sehingga
biasanya tanya jawab tidak bisa menghasilkan sesuatu yang konstruktif. Apa
akibatnya? Informasi yang dibutuhkan untuk mencapai sasaran komunikasi
tidak keluar, apa yang ingin kita sampaikan pun terkadang tersendat di
tenggorokan.

Ternyata, memang tidak selalu mudah melakukan konversasi yang ‘setara’
ataupun mencari kata sepakat yang bisa menyelimuti perbedaan. Kita sering
lupa menyadari bahwa ‘channel’ komunikasi harus terbuka dulu, sehingga
masing-masing pihak siap bertanya jawab. Bila salah satu pihak masih
berbicara sambil membuang muka, hendaknya kita menunggu dulu sampai pihak
lain itu siap betul bertanya jawab. Kita pun perlu menciptakan kesadaran
bahwa masing-masing pihak perlu mempunyai keterlibatan yang sama. Setiap
pihak, dalam berkomunikasi perlu memaknai isi pembicaraan, mengolah
persepsi, pikiran dan imajinasinya agar ia benar benar ‘paham’ isi
pembicaraan. Hal yang terpenting adalah tindak lanjut dari tanya jawab
tersebut, apakah itu perubahan, transaksi atau tindakan yang disepakati
bersama, yang membuat setiap pihak merasakan ketuntasan tanya jawab
tersebut.


EXPERD CONSULTANT
Adding value to business results
Kemang 89 Building, 3rd - 4th Floor
Jl. Kemang Raya No. 89, Jakarta 12730
Telp. 021-718 0805
Fax.  021-718 3101
http://www.experd.com
http://jobs.experd.com














*".... I am the KING to my own UNIVERSE that Rule my MIND, BODY and
SOUL!!! ...."
*
**
*- Aga Madjid -*

-- 
-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

--- 
You received this message because you are subscribed to the Google Groups 
"aga-madjid" group.
To unsubscribe from this group and stop receiving emails from it, send an email 
to [email protected].
For more options, visit https://groups.google.com/groups/opt_out.


<<Picture (Device Independent Bitmap) 1.jpg>>

Kirim email ke