Sabtu, 11/12/2010 15:47 WIB
 Kolom
 Kritik atas Spanduk Nurdin Halid di GBK
 *Zen Rachmat Sugito* - detiksport


(dok.pribadi: Ahmad Brain)

  *Jakarta* - Nurdin Halid membuat satu lagi kesalahan besar saat Piala AFF
berlangsung di Jakarta. Fenomena spanduk di Stadion Gelora Bung Karno, yang
adalah katedral-nya sepakbola Indonesia, adalah sebuah penodaan atas
keluhuran stadion.

Kita tahu, dalam sepakbola, stadion adalah segalanya. Para pemuja sepakbola
ada yang menyebutnya sebagai gereja, kuil, atau altar -- ringkasnya: tempat
paling adiluhung dalam perayaan sepakbola. Di sanalah, di stadion itu, semua
urusan akan diselesaikan atau justru akan dimulai, segala cerita akan
dibangun atau mungkin dihancurkan, emosi akan dikerek ke udara atau malah
akan terbantun seketika.

Di level itu, stadion adalah sebuah *"public-space",* tempat keragaman suara
dirayakan, tempat warga punya ruang untuk mengekspresikan semangat
(komunalisme). Ia adalah altar di mana kebebasan seorang suporter bisa
dikerek setinggi-tingginya, sekaligus ia pula yang mempertanggungjawabkan
dan menanggung risiko atas kebebasan yang dirayakannya di sana.

Stadion, sekali lagi, adalah puncak pengalaman dalam melibatkan diri dengan
sepakbola -- apapun posisi Anda, sebagai pemain, suporter, wasit, sampai
presiden sebuah federasi sepakbola.

Tentu saja stadion membutuhkan "keteraturan" tersendiri. Semua studi
antropologi tentang ritus-ritus juga selalu menemukan adanya "keteraturan",
"pola", "rukun", dll. Dalam upacara sepakbola di stadion, keteraturan
terutama terkait dengan isu keamanan, baik isu keamanan yang sifatnya
fisikal maupun keamanan di level non-fisikal (misalnya: isu rasisme). Ini
sudah jadi standar di mana pun, tentu saja dengan gradasi yang berbeda-beda
di tiap tempat, tergantung kesiapan, juga tergantung intensitas duel yang
sedang di gelar di stadion.

Tapi di luar isu keamanan itu, upacara sepakbola di dalam stadion sudah
sepatutnya dibiarkan berlangsung secara alamiah dan bergulir secara organis.
Upaya pembatasan pada kelangsungan upacara sepakbola, apalagi hanya sekadar
untuk menjaga kepentingan seseorang, adalah pengingkaran terhadap sepakbola
sebagai sebuah peristiwa, sepakbola sebagai sebuah event, sepakbola sebagai
sebuah upacara dan perayaan.

PSSI dan Nurdin Halid, saya kira, telah melakukan dua hal tidak patut yang
membuat keduanya layak didakwa telah menodai keluhungan Stadion Utama Gelora
Bung Karno sekaligus upacara perayaan sepakbola ini.

Pertama, PSSI dan Nurdin Halid telah membatasi stadion sebagai cagar alam
kebebasan bersuara para suporter. Nurdin dan antek-anteknya memasang
spanduk-spanduk yang menguntungkan dirinya sendiri. Nurdin boleh saja
berkilah bukan dia yang memasangnya. Tapi fakta bahwa spanduk-spanduk itu
sudah terpasang jauh sebelum suporter berdatangan tak bisa membuatnya
mengelak.

Tentu saja kita bisa katakan bahwa seorang PSSI dan Nurdin pun boleh dan
berhak bersuara. Hanya saja, jika demikian argumennya, maka PSSI dan Nurdin
juga tak punya secuil pun hak untuk memberangus spanduk dan poster-poster
yang mengkritik dan menghujatnya. Itu baru adil.

Tapi keadilan itu tidak terjadi. PSSI dan Nurdin dengan sewenang-wenang
melarang para suporter dan pemuja sepakbola membawa spanduknya sendiri ke
dalam stadion. Tas digeledah di pintu masuk Stadion (bukan untuk menyita
benda-benda berbahaya seperti pisau, misalnya) tapi justru untuk menyita
spanduk-spanduk, apa pun isi dan bunyi spanduknya.

Jika pun dalam Stadion Gelora Bung Karno akhirnya masih terpasang
spanduk-spanduk, spanduk itu masuk karena kerja-keras para suporter untuk
mengakali aparat-aparat yang sudah di-set up untuk menjaga ketunggalan-suara
(*monophone*) dan memberangus keragaman-suara (*polifhone*).

Kami harus bertarung urat syaraf dengan orang-orang berkaos merah berlengan
hitam (yang masuk ke stadion tanpa tiket) sepanjang 80 menit agar bisa
memasang spanduk dalam laga tim nasional melawan Laos. Itu pun tidak
bertahan lama, hanya sekitar 5-8 menit. Orang-orang dengan *handy-talkie* di
tangan segera memberangus spanduk itu. Jika Presiden saja bisa membiarkan
dirinya dikritik dan dihujat, kenapa PSSI dan Nurdin Halid merasa harus
diistimewakan?

Orang mungkin berpikir bahwa *sweeping* hanya berlaku untuk spanduk yang
mengkritik PSSI dan Nurdin Halid. Ternyata salah. Spanduk yang mendukung
nama seorang pemain di tribun selatan atas, dalam laga versus Thailand
kemarin, dipaksa untuk diturunkan oleh  preman-preman yang dikerahkan. Hanya
karena kekompakan suporter di tribun selatan sajalah preman-preman itu
akhirnya "mengalah" dan membiarkannya.

PSSI dan Nurdin Halid hanya mengizinkan spanduk-spanduk yang mereka buat
sendiri. Spanduk-spanduk dengan cetakan yang bagus, dengan font yang rapi,
dengan kalimat-kalimat yang formal layaknya seorang siswa sedang belajar
SPOK (subyek, predikat, obyek, keterangan).

Apa yang terjadi? Bagi saya, Stadion Gelora Bung Karno, kehilangan sejumlah
hal yang paling alamiah. Alih-alih membakar semangat, spanduk-spanduk PSSI
itu malah membuat secara visual stadion terasa begitu formal dan kaku.
Terasa benar sebentuk keteraturan yang dipaksakan, bukan gelora yang
membuncah secara alamiah. Bagusnya suporter Indonesia tak henti-hentinya
bernyanyi; laku yang membuat stadion Gelora Bung Karno bisa tetap terjaga
auranya yang magis.

Pertanyaannya: adakah federasi sepakbola di dunia ini yang hanya mengizinkan
stadion diisi oleh spanduk yang dibuat oleh federasi sepakbola sendiri?

Kedua, PSSI dan Nurdin Halid terbukti "mengotori" keluhungan Stadion Gelora
Bung Karno dengan memasukkan suporter bayaran dan preman-preman bayaran.

PSSI dan Nurdin boleh berkilah, tapi perilaku orang-orang itu tak bisa
membuat mereka menyangkal. Sebelum laga, mereka berkumpul di depan Kantor
PSSI, dengan kaos merah berlengan hitam, lalu sebagian dari mereka mengawal
Nurdin Halid masuk ke stadion (tentu tanpa tiket), sebagian lagi menyebar ke
semua sektor, menjaga spanduk-spanduk bikinan PSSI dan Nurdin Halid, dan
saat jeda masing-masing mendapat jatah nasi bungkus. Dalam laga melawan
Thailand, orang-orang berbadan kekar berkeliaran di tribun selatan atas,
memaksa beberapa spanduk yang dibawa suporter untuk diturunkan.

Harian *TopSkor *(6 Desember 2010, hal. 14) melaporkan bahwa mereka disuplai
oleh seseorang yang mereka panggil Pak Yapto Suryo Sumarno, dengan upah 60
ribu rupiah, berikut kaos, jatah nasi bungkus dan tiket cuma-cuma.

Dengan mengizinkan suporter bayaran dan preman-preman bayaran itu masuk ke
stadion, PSSI dan Nurdin Halid justru telah memperlakukan laga tim nasional
tak ubahnya sebagai sebuah kampanye partai politik. Dengan itu, PSSI dan
Nurdin Halid telah memperlakukan laga tim nasional sebagai miliknya, bukan
perayaan kolektif para pemuja sepakbola dan pendukung tim nasional
Indonesia.

Dengan alasan inilah, kita patut menolak kenaikan harga tiket semifinal
Piala AFF.

Sejujurnya, kenaikan harga tiket adalah hal wajar. Harga tiket babak
penyisihan dengan semifinal wajar saja berbeda. Tapi, kenaikan harga tiket
itu tak bisa diterima jika PSSI dan Nurdin Halid masih membiarkan
orang-orang bayaran dan preman-preman itu masuk ke stadion. Para pemuja
sepakbola dan suporter tim nasional bayar tiket mahal-mahal, ealah... PSSI
dan Nurdin malah membiarkan antek-anteknya masuk tanpa tiket. Jika mau
egaliter dan solider, seorang Nurdin Halid pun harusnya masuk dengan membeli
tiket.

Percayalah, para pemuja sepakbola di Indonesia tak akan membiarkan tim
nasional bertanding tanpa dukungan. Tanpa suporter bayaran pun Stadion
Gelora Bung Karno akan sesak dengan para suporter yang tak akan
lelah-lelahnya bernyanyi untuk Bambang Pamungkas, Christian Gonzales, dkk.
Menyelundupkan suporter bayaran sama saja meragukan kecintaan publik
sepakbola Indonesia pada tim nasional Indonesia.

Ingat, ini tim nasional Indonesia, bukan tim PSSI. Tim nasional adalah milik
orang Indonesia, bukan punya PSSI dan Nurdin Halid. Catat juga: Stadion
Utama Gelora Bung Karno adalah milik bangsa Indonesia, dan jelas-jelas bukan
milik PSSI atau Nurdin Halid.

Saya (juga para pemuja sepakbola yang lain) selalu dan akan selalu datang ke
Senayan untuk tim nasional, tapi jelas bukan demi PSSI apalagi Nurdin Halid.




===


*Penulis adalah pencinta sepakbola, editor di *Indonesia Boekoe*. Tulisan
adalah opini penulis dan tidak mencerminkan pendapat redaksi *detiksport*.
* ( a2s / a2s )

**Warm Regards,


Zigo AlCapone
*

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke