udah bro, barusan gw kirimin dlm bntuk pdf
silahkan dinikmati ^_^

[email protected] wrote:

Yg ada bagian 5 nih.....bagian 1 lom dpat.....krimin lagi dunk


*maHen <[email protected]>*
Sent by: [email protected]

04/13/2010 03:11 PM
Please respond to
[email protected]


        
To
        [email protected]
cc
        
Subject
        ~ aga ~ Setelah Kau Menikahiku



        





Setelah Kau Menikahiku (Bagian 5)


Meski sudah bersikap menyebalkan, Puspita tidak berhasil membuat Idan
marah. Pria itu malah bersikap sangat manis.

Wajah Idan benar-benar merah sekarang. “Upit! Jangan main-main denganku!
Aku tidak mau kau menolak pergi jalan-jalan lalu menghukumku dengan
cemberut sepanjang hari begini. Mandi sekarang. Kita pergi setengah jam
lagi.”

“Aku bukan budakmu. Jangan suruh-suruh aku. Dan aku tetap tak mau pergi.”

“Oke. Terserah! Kalau kau mau duduk di sini seharian, makan es krim dan
cokelat sambil mengasihani diri sendiri dan melar dan melar dan melar
dan melar….”

“Idan!” jeritku sambil melempar kotak es krim itu ke arahnya. Ia
terlambat mengelak dan sisa es krim yang telah mencair melumuri
t-shirtnya. Aku lari ke kamarku, membanting pintunya dan melempar diri
ke ranjang, sesenggukan.

Kudengar ia memaki dan menendang pintu. Saat itu aku takut, takut
sekali. Ia seperti telah menjadi manusia lain yang tak kukenali sama
sekali, asing dan mengerikan. Kututup telingaku dengan bantal dan aku
terus menangis hingga tenggorokanku yang sakit dan kepalaku yang berat
memaksaku tertidur kelelahan.

Sorenya aku keluar mengendap-endap. Idan pasti telah pergi memancing.
Memikirkan bahwa ia pergi sementara aku masih menangis karena kata-kata
kasarnya membuatku makin marah kepadanya. Kali ini aku yakin tak ada
pilihan lain kecuali meninggalkannya dan kembali ke rumah orang tuaku.
Maka selesai mandi aku segera memasukkan semua pakaianku ke dalam kopor.
Saat itu Idan datang. Ia kedengaran sangat gembira, bersiul-siul sejak
ia memasuki pintu gerbang. Siulannya berhenti saat ia melihat koporku
dari pintu kamar yang terkuak.

“Apa-apaan ini, Pit?” tanyanya.

“Aku pulang ke rumah Ibu.”

Ia masuk dan duduk di atas kasurku, mengawasi gerak-gerikku. “Semudah
ini kau menyerah?”

“Ini di luar dugaanku.”

“Apa?”

“Aku tidak mengira aku menikahi monster.”

Idan terdiam, menunduk.

“Aku…,” katanya lirih. “Aku bawa pizza kesukaanmu.”

“Aku sudah terlalu gemuk.”

Ia menggeleng dengan ekspresi bersalah, ”Tidak. Kau cantik.”

“Aku tidak butuh pendapatmu. Kau bukan suamiku, ingat? Penilaianmu tidak
punya arti apa-apa.”

“Aku sudah mencoba jadi suami yang baik.”

“Kau gagal.”

“Setidaknya aku mencoba. Kau … kau tidak melakukan apapun supaya
pernikahan kita berhasil….”

“Simulasi.”

Ia menghela napas panjang dan mengangguk singkat. “Simulasi.”

“Kau salah, Dan. Aku sudah melakukan terlalu banyak. Sudah belajar
terlalu banyak. Dan aku sudah mengambil keputusan.
Aku tidak akan menikah. Aku tidak suka menikah. Apalagi denganmu.”

Ia tak mengatakan apa-apa, lama sekali. Ketika ia keluar dari kamarku,
aku ambruk ke atas tempat tidur. Semua topeng ketegaranku hancur
berkeping-keping. Aku tak pernah menduga Idan bisa menyakitiku sehebat
ini. Lama kemudian. setelah aku bisa sedikit menguasai diri, aku
bangkit. Kurapikan dandananku dan kuseret koporku keluar.

“Setidaknya tunggulah sampai hujan reda,” suara Idan menyambutku.

“Terlalu lama,” gumamku. “Aku tidak bisa tinggal denganmu selama itu.”

Aku tak peduli hujan yang serta merta mengguyurku basah kuyup saat aku
membuka pintu gerbang. Meninggalkan Idan secepatnya, hanya itu yang ada
di benakku. Dan ketika mobilku mulai tersendat terendam genangan air
hujan hanya lima puluh meter dari rumah, aku begitu berang dan putus asa
hingga aku keluar dari mobil dan menendang pintunya, meninju atapnya,
air mataku larut dalam siraman hujan.

Saat itu aku melihat Idan datang. Tanpa mengatakan apa-apa ia mencabut
kunci mobilku dan mengunci mobil itu dari luar.

“Ayo pulang,” katanya.

Aku menggeleng tanpa berani menatap wajahnya.

Dan ia mengangkatku, menggendongku, tanpa menghiraukan perlawananku. Ia
membopongku sampai ke rumah, tak memberiku kesempatan untuk melarikan
diri. Setiba di dalam, ia mengunci pintu dan menyimpan kuncinya di saku.

“Ganti bajumu,” katanya.

“Semua bajuku di dalam kopor.”

“Ambil bajuku.”

“Tidak akan pernah!”

Ia mencengkeram pergelangan tanganku dan menatapku lurus dengan mata
berkobar,”Ini bukan waktunya melawanku, Pit. Kau bisa sakit!”

“Monster,” desisku.

Malam itu suhu tubuhku menanjak naik, kepalaku sakit dan tenggorokan
nyeri. Aku masih ingat saat Idan menyuruhku menelan sebutir tablet
penurun panas dan aku membangkang. Ketika abangku datang untuk memeriksa
keadaanku, aku masih bisa menangis dan merengek minta diantar pulang ke
rumah orang tuaku. Setelah itu semuanya kabur.

Kesadaranku kembali dalam kelebatan-kelebatan singkat. Ketika aku
terjaga dan menemukan Idan tengah mengganti kain kompres di dahiku,
sentuhannya begitu sejuk dan menenteramkan. Ketika aku tiba-tiba
tersentak dari salah satu mimpi burukku dan mendapati Idan tengah
membersihkan ceceran muntahku di lantai. Ketika aku terbangun dari
tidurku yang gelisah dan merasakan tangannya erat menggenggam jemariku.

Hingga akhirnya, entah setelah berapa lama, aku terbangun dan nyala api
dalam kepala dan dadaku telah padam. Jendela kamarku terbuka dan cahaya
matahari hangat menerobos masuk, membawa aroma melati dari rumpun di
luar kamarku. Ibuku tengah duduk di dekat jendela, membaca.

“Ibu.”

Ibuku menurunkan korannya. Senyumnya mengembang saat ia menghampiriku.
“Bagaimana? Sudah enakan?”

“Idan mana?” bisikku. Ah, pertanyaan bodoh. Mungkin seharusnya aku
bertanya di mana aku sekarang atau setidak-tidaknya siapa namaku. Kenapa
pertanyaan pertamaku harus tentang Idan? rutukku pada diri sendiri.

“Masih di kantor. Sebentar lagi juga pulang.”

Aku sakit dan dia pergi ke kantor. Suami teladan.

“Ibu sudah berapa lama di sini?”

“Dari pagi. Kau tidak ingat ibu datang pagi tadi?”

Aku mencoba menggeleng dan kepalaku serta merta terbelah tiga. Tapi yang
paling menyakitkanku adalah, Idan sama sekali tak peduli aku sakit. Aku
berbalik dan memejamkan mata. Air mataku yang panas luruh satu-satu.

Sore itu ketika Idan pulang, aku berpura-pura tidur. Aku sama sekali
belum siap untuk bicara lagi dengannya. “Bagaimana, Bu?” tanyanya,
suaranya mendekati tempat tidurku. Dan kemudian tangannya hinggap di
dahiku, sejuk dan membawa ketenangan. Dengan punggung tangannya ia
menyentuh leherku, dan kalaupun aku sanggup menepiskan tangannya dengan
tenagaku yang nyaris nihil, aku tak akan mau melakukannya.

“Tadi bangun sebentar, menanyakan kamu. Lalu tidur lagi. Tapi panasnya
sudah turun dan tadi siang sudah mau minum susu.”

Tangan Idan berpindah ke bahuku dan mulai memijat dengan lembut. Jangan
berhenti, jangan berhenti, jangan berhenti, pintaku dalam hati. Tapi ia
bangkit dan merapikan selimutku sambil terus bicara dengan ibuku.

“Kalau Ibu capai, Ibu bisa ambil cuti besok.”

Ibu tertawa kecil. “Kau sendiri? Kau tidak tidur entah berapa malam dan
kau mengerjakan semuanya. Mencuci, membersihkan rumah, mengurus Upit.
Apa kau tidak capai?”

“Saya pakai baterai Energizer, Bu.”

Bersambung

Penulis: Novia Stephani
Pemenang I sayembara mengarang cerber femina 2003


--
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
or add me in Yahoo Messenger at [email protected]
thanks for joinning this group.

To unsubscribe, reply using "remove me" as the subject.

--
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
or add me in Yahoo Messenger at [email protected]
thanks for joinning this group.

--
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
or add me in Yahoo Messenger at [email protected]
thanks for joinning this group.

Kirim email ke