MOTIVASI

Eileen Rachman & Sylvina Savitri

EXPERD

ONE-DAY ASSESSMENT CENTER



Dimuat di Kompas, 20 Februari 2010

Banyak orang setuju bahwa motivasi itu bagai misteri. Kita pun sering
tidak mengenal penuh motivasi dalam diri kita. Apa yang membuat saya
bersemangat? Apa yang membuat saya melompat dari tidur saya di pagi
hari. Apa yang membuat saya ceria mengerjakan sesuatu walaupun badan
lelah. Beberapa teori utama yang membahas kebutuhan manusia juga
seringkali bisa tidak relevan dengan motivasi orang bekerja di masa
sekarang. Betulkah untuk merangsang para salesman diperlukan 'upah
komisi' tok? Apakah seorang salesman tidak punya keinginan berprestasi
sendiri, menghargai dirinya serta  mencintai pekerjaannya? Betulkah
aktualisasi diri tergolong kebutuhan yang terakhir hirarkinya dan baru
muncul sesudah kebutuhan lain terpenuhi? Apakah tidak ada diantara kita,
orang yang sangat bersemangat melakukan sesuatu atau menjual produk
tanpa terlalu hitung-hitungan mengenai berapa imbalan yang ia dapat?
Bukankah kita melihat bahwa banyak sekali orang, demi 'passion'-nya juga
tidak menunggu "sandang-pangan-papan"-nya cukup, untuk menghasilkan
karya-karya yang hebat? Bukankah para anggota pasukan khusus tentara
juga tidak menunggu jaminan kesejahteraan sebelum berjuang dengan
motivasi  'all out' membela negara? Sebaliknya, kita juga banyak melihat
gejala di mana individu yang mendapatkan gaji yang relatif 'cukup' malah
tidak tergerak mengejar target. Dengan kata lain, berhenti di kepuasan
fisik  dan rasa aman saja.

Memang ada orang dan tim yang tidak mementingkan untuk menghidupkan
motivasinya secara optimal, bahkan mungkin tidak merasa bahwa motivasi
itu penting. Namun, dalam tuntutan situasi seperti sekarang, sulit
dibayangkan bila individu, tim dan perusahaan, hanya mengandalkan
kekuatan pikir dan fisik saja. Kreativitas dan value adding mustahil
berkembang jika tidak didukung motivasi individu dalam kelompok atau
organisasi. Bahkan, nilai motivasi bisa jadi lebih besar pengaruhnya
terhadap keberhasilan, daripada nilai kompetensi lainnya. Mungkin ini
sebabnya instansi pemerintah pun mulai memperhitungkan motivasi pegawai
negeri dalam pengembangan sumber dayanya.

Tumbuhkan "Sense of Progress"

Seorang ahli manajemen membuat penelitian terhadap 12000 karyawan, yang
terdiri dari pekerja kasar sampai pada para eksekutif. Ia menemukan
'sense of progress' sebagai hal yang paling membuat karyawan ingin maju
dan berprestasi ketimbang faktor lain, seperti suport internal, teknikal
serta kolaborasi tim. Mungkin ini juga alasan bahwa perusahaan
perusahaan servis yang mengandalkan antusiasme karyawannya mengumumkan
secara terbuka pencapaian penjualan hariannya, agar setiap karyawan
jelas merasakan 'milestone' perusahaan, sedang maju, jalan di tempat
atau mengalami penurunan.

Bagaimana dengan pekerjaan yang dianggap rutin dan sulit diukur
kemajuannya? Seorang karyawan bisa saja mengatakan "Dari tahun ke tahun,
saya menyajikan laporan keuangan bulanan terus. Pekerjaan  saya memang
itu-itu saja." Bayangkan betapa sulitnya menjaga motivasi teman kita
ini. Dan bayangkan betapa orang semacam ini cepat berkarat dan tua
sebelum waktunya. Untuk pekerjaan-pekerjaan rutin jalan terbaiknya
adalah memberi perasaan pada teman-teman kita ini bahwa kesempatan
belajar selalu ada. Pertanyaan atau bahkan berbagai tantangan bisa kita
berikan seputar pekerjaannya, sehingga setiap individu merasakan
'progress' belajar dalam dirinya.

Genggam "Passion"

Tidak jarang kita temui orang yang sangat pe-de, tapi tidak terlihat
antusias. Professional yang berbakat dan trampil sekalipun bisa saja
tidak bersemangat. Teman saya seorang pemain bola basket yang berbakat,
terpaksa harus menghentikan karirnya sebagai pemain nasional, setelah
menemukan bahwa kedua belah kakinya tidak sama panjang. Teman kita yang
seharusnya jatuh mentalnya ini, ternyata tidak jadi kehilangan semangat,
bahkan akhirnya merintis karirnya menjadi pelatih. "Saya tidak pernah
lepas menggenggam 'basket'. Mengapa harus berhenti?" kata teman kita
ini.

Kita tahu bahwa hambatan dan kendala pasti dihadapi setiap orang dan
terkadang bisa menjatuhkan mental. Namun, sepanjang individu punya
kecintaan dan minat yang kuat terhadap substansi tertentu, ia senantiasa
bisa menemukan jalan untuk membakar antusiasmenya terus-menerus dan
tidak berhenti berkarya. Teman kita ini juga menambahkan, "Fokus pada
diri sendiri tidak boleh terlalu berlebihan, karena situasi seperti ini
membuat kita tidak bisa memperhatikan dan bekerja untuk  orang lain di
sekitar kita." Ya, mana mungkin kita mengeluarkan prestasi terbaik, jika
tujuan kita semata untuk kepentingan pribadi? Dengan memperluas minat
dan kepedulian pada keadaan di sekitar kita dan kebutuhan orang lain,
sumber energi kita tentu akan terus terisi, bahkan bertambah besar.

Motivasi itu Dinamis

Orang yang malas sering kita sebut sebagai orang yang tidak punya
motivasi. Dengan pandangan ekstrem seperti ini, kita seakan punya beban
berat jika diberi tugas untuk 'menanamkan' motivasi dalam diri seseorang
atau sebuah tim. Sebaliknya, kalau kita membayangkan bahwa motivasi itu
bagaikan sebuah sumber energi dalam tubuh kita, kita bisa melihat bahwa
motivasi akan selalu ada dalam diri tiap orang. Ada orang yang sumber
energinya kuat, ada yang sumber energinya lemah. Ada orang yang mampu
konsisten menjaga sumber energinya tinggi, namun ada juga yang grafik
"energi"-nya naik-turun.

Hal yang 'magic' adalah bahwa bahwa energi yang kuat dari seseorang,
bisa menular pada orang lain. Kita tahu bahwa hawa bersemangat dari
seorang pemimpin bagaikan virus yang bisa segera menyebar, membuat orang
lain merasa ringan dalam bekerja, bahkan membuat tim jadi kuat mendobrak
dan mendorong hasrat pemecahan masalah kreatif. Jadi, sebetulnya tidak
sulit juga membawa organisasi pada suasana motivasional. Dengan
meng-enjoy pekerjaan kita, melihat kekuatan tim dan berpikir positif,
mengajak teman-teman untuk selalu berpikir maju, pastinya hawa tim akan
berubah dan bisa segera mengangkat energi dari orang-orang lain
disekitar kita juga. Motivasi itu dinamis, mengalir dan bergerak.
Tantangan pun tidak usah dicari-cari lagi jika kita terbiasa
berkomunikasi efektif, sehingga kritik dan evaluasi bisa terus masuk.
Sebagaimana sering kita baca: "Motivation requires a delicate balance of
communication, structure, and incentives ".



EXPERD CONSULTANT
Adding value to business results
Plaza Pondok Indah 3 Blok C/2
Jl. Tb. Simatupang Jakarta 12310
Telp. 021-7590 6448
Fax.  021-7590 6442
http://www.experd.com <http://www.experd.com/>

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
or add me in Yahoo Messenger at [email protected]
thanks for joinning this group.

Kirim email ke