ESENSI Eileen Rachman & Sylvina Savitri EXPERD One-day Assessment Centre

Ditayangkan di Kompas, 17 Oktober 2009

Dalam suatu sesi ‘*brainstorming’** *di sebuah kelas pelatihan, peserta
segera mengeluarkan ide-ide dan pendapatnya untuk membahas cara-cara
penanggulangan ‘chaos’. Selang beberapa lama, seseorang bertanya:
“Sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan ‘chaos’?”. Segera semua orang
menengok ke arahnya. Ada yang melontarkan pandangan aneh, seolah
mempertanyakan “Kok, tidak mengerti istilah yang begitu populer?”. Ada juga
yang mencibir, seolah bertanya, “Dari tadi ke mana saja...”. Tapi, ternyata,
tidak seorang pun kemudian bisa dengan lancar mendefinisikan arti kata itu
dengan tepat dan memuaskan. Ternyata, dalam banyak situasi, orang sering
sudah menyambar dan berkomentar terhadap suatu isu atau masalah tanpa
mencocokkan asumsi, menyamakan persepsi mengenai istilah-istilah yang sedang
dibicarakan.

Mendefinisikan kata, apalagi sebuah problem, ternyata tidak mudah. Padahal,
banyak ahli yang mengatakan bahwa begitu kita bisa mendefinisikan sebuah
problem dengan tepat,  kita sudah 50% menemukan solusinya.Tidak heran
bila Einstein
mengatakan: *“ if I had one hour to save the world I would spend fifty-five
minutes defining the problem and only five minutes finding the
solution”.* Sayangnya,
dalam masyarakat kita dan kehidupan  yang  serba mau cepat ini, kita tidak
banyak melihat contoh-contoh pendefinisian problem dengan cermat. Banyak
masalah yang mengambang tanpa penyelesaian, karena tidak terfokusnya
permasalahan. Misalnya saja, mengapa Situ Gintung jebol? Situ Gintung itu
sebuah apa? Bagaimana dibuatnya? Bagaimana pemeliharaannya? Apa ancamannya?
Dalam pemberitaan, kita pun kadang sulit mencerna, kunci permasalahan dari
suatu situasi. Padahal, pemahaman terhadap inti masalah ini sebenarnya perlu
berkembang bukan saja dibenak para ahli, tapi juga di benak masyarakat yang
sudah bersekolah, sehingga intelektualitasnya bisa membawanya ke arah solusi
lingkungan juga. Dengan tidak jelasnya permasalahan, masyarakat yang sadar
pun bisa hanya diam saja, ketika menyaksikan pembahasan masalah besar
yang  pemecahannya
melenceng jauh dari persoalan semula sehingga membawa keluaran yang keluar
jalur. Bukankah hal ini sangat membahayakan?

*Buat Akar Masalah Kelihatan*
Mendefinisikan problem sering tidak dipandang penting atau bahkan tidak
diagendakan dengan sengaja oleh banyak orang. Contohnya, bila kita sedang
menghadapi gejala penjualan turun, kita sering langsung menanggapi dengan
solusi yang itu-itu saja, misalnya menurunkan harga, melakukan promosi atau
cara lain yang memang sudah umum dilakukan orang. Tidak lazim bagi kita
untuk mundur selangkah, mendefinisikan masalah berdasarkan fakta yang lebih
luas dan memahami duduk perkaranya. Apakah penjualan menurun ini berkaitan
dengan pasar yang lesu? Ketidakcocokan produk dengan tuntutan pasar
lagi? Salesman
yang tidak bergairah? Atau, unsur lain lagi? Tentu saja akar masalah yang
berbeda, pemecahannya akan  berbeda ekstrim satu sama lain. Kita perlu
sadari bahwa kebiasaan kita ‘*jump into solutions’* begitu banyak
mempengaruhi mutu solusi. Ada perusahaan yang membuat aturan main di
rapat-rapat
brainstormingnya, untuk menyalakan lampu ketika solusi belum dipilih. Pada
saat lampu menyala, setiap peserta rapat tidak diperkenankan memilih solusi.
Baru setelah lampu dipadamkan, kelompok mulai memilah-milah solusi dan
kemudian berfokus pada penyelesaian masalahnya. Presdir perusahaan
tersebutmengatakan
*:”The Problem Is To Know What the Problem Is”. *Jadi tidak heran juga,
mengapa Gus Dur menjadi terkenal dengan ungkapannya:” Kalau bisa mudah,
kenapa dibuat susah?” Pernyataan ini sebenarnya ingin membuktikan bahwa kita
bisa menghemat banyak energi bila kita menemukan inti suatu
permasalahan.  Bertanya
itu Sakti Tidak heran di pendidikan dasar modern saat sekarang, kegiatan
bertanya, dipisah sebagai subyek penting, bahkan diberi angka tersendiri.
Tanya jawab yang terfokus memang sering membuat orang lebih pintar.
Pertanyaannya, mengapa tidak banyak orang yang mau bertanya, tidak mencari
waktu dan mengklarifikasikan suatu pernyataaan, perkataan ataupun penawaran.
Padahal sudah ada peribahasa :”Malu bertanya sesat di jalan”.  Berkembangnya
ilmu pengetahuan, adanya Wikipedia yang menjadi ensiklopedi milik bersama,
situs-situs pengetahuan  dan profesi yang demikian banyak, belum menjamin
individu menguasai suatu masalah yang terjadi sesaat. Dengan mudahnya
mengakses pengetahuan, kita tetap tidak bisa langsung bersikap sok tahu, sok
pinter dan langsung saja menyambar tanpa tahu esensi masalahnya. Kita tetap
perlu mengorek dan menggali karena pendalaman masalah sangat berguna untuk
menjawab masalah. Di sinilah bertanya efektif bisa menjadi alat sakti untuk
membawa kita pada pemahaman masalah yang lebih tajam. Kita perlu bertanya:
Apa sebenarnya yang sangat dipentingkan pelanggan? Apa kebiasaan pengguna
jalan yang menyebabkan kemacetan lalu lintas? Apa yang diperlukan setiap
penduduk agar supaya gizi cukup? Bagaimana hidup dari perikanan
Indonesia?  Bagaimana
cara Negara bisa berswasembada pangan kembali? Sayangnya memang, kegiatan
seperti studi banding pejabat pemerintah untuk belajar dari pengalaman orang
lain tidak dilengkapi dengan kegiatan ‘enquiries’ yang tajam, sehingga belum
benar-benar menghasilkan lompatan dalam solusi bagi Negara kita.  Kata kunci
yang tepat Reaksi bengong & apatis dari karyawan muncul saat tim manajemen
Toyota meminta karyawan melakukan brainstorming tentang bagaimana
meningkatkan produktivitas. Begitu pernyataan brainstorming diputar
menjadi:”Bagaimana membuat pekerjaan kita lebih mudah?”, segera saja respons
bengong berubah menjadi antusiasme karyawan dalam memberikan usulan dan
opini. Kita lihat, perbedaan kata ‘produktivitas’ dan ‘kemudahan’
bisamembawa dampak besar bagipencarian
solusinya. Ternyata, solusi untuk meningkatkan produktivitas bisa
dilaksanakan bila karyawan juga memikirkan bagaimana ia memudahkan
pekerjaannya. Lagi-lagi pemilihan kata yang tepat akan berpengaruh pada
solusi yang sedang kita cari. Berarti, selain cermat bertanya, kita pun
perlu pandai memilih kata-kata, bila ingin menemukan esensi masalah.

EXPERD CONSULTANT
*Adding value to business results*
Plaza Pondok Indah 3 Blok C/2
Jl. Tb. Simatupang Jakarta 12310
Telp. 021-7590 6448
Fax.  021-7590 6442
*http://www.experd.com*

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
or add me in Yahoo Messenger at [email protected]
thanks for joinning this group.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke